Pelik Dalam Peluk
Suatu malam tiba-tiba terasa sangat sunyi. Gemericik air langit menjadi suara utama tatkala ada hati yang sedang menjerit, merintih tak berdaya akan peluk.
Pada pelik yang semakin sakit hingga berujung sulit. Pada remuk yang kian membabi buta dalam peluk. Ada suatu keadaan di mana kesedihan adalah raja. Sedangkan kesenangan hanya budak belaka.
Selaput bening menyelimuti pengelihatan. Pelupuk mata berkedip-kedip, berusaha menghilangkan sang selaput air yang tampaknya akan segera pecah.
Ada jeritan dalam diam yang tidak pernah didengarkan oleh seseorang. Ada permintaan yang tidak bisa dijadikan kenyataan, sebab keterlanjuran yang tak bisa diundurkan.
Selamat jalan ...
Badan kekar itu kini hanya tinggal badan, nyawanya melayang, pergi meninggalkan rasa sakit yang belakangan ini jadi raja penyiksaan. Rahang kokohnya melemas, wajahnya tertidur pulas. Di saat semua mengatakan MERDEKA, aku malah merayakan pesta doa; berharap beliau tenang di sana.
Pahlawan itu kini pensiun untuk selamanya. Menitipkan harapannya pada dunia; semoga dan selalu semoga semua baik-baik saja.
Yang jiwanya patah merasakan lara tak bisa lagi menumpahkan air mata. Sudah banyak genangan kesedihan di rumah, tiada berguna. Hanya diam, duduk manis, lalu bermonolog, "tidak ada yang benar-benar bisa dirubah".
Kendaraan itu mulai berjalan menuju keabadian. Mengantar pahlawan purnama yang tertidur lelap dengan balutan kain putih bersihnya.
Untuknya, pengganti cinta pertama.
Doa-doa itu kini berangsur nyata. Harapan yang tertitip itu mulai tertatap realita.
Semua baik-baik saja.
Komentar
Posting Komentar